Cerita Dari Jabranti

Pada hari minggu tanggal 5 Februari 2017, saya bersama Paguyuban Moka Kuningan berkunjung ke sebuah pelosok desa di Kab. Kuningan yaitu Desa Jabranti di Kecamatan Karangkancana. Desa ini terletak di ujung timur berbatasan dengan Kab. Cilacap, Jawa Tengah. Akses jalannya sempit, sulit dan bergelombang yang terdiri dari material batu kerikil dan tanah. Sinyal telepon juga terbatas hanya untuk beberapa operator seluler saja. Saya dan rekan-rekan moka berencana untuk mengunjungi salah satu taman baca disana. Secara tidak terduga, kami bertemu dengan seorang Doktor Arkeolog dari Universitas Indonesia, Pak Ali Akbar beserta keluarga. Beliau sedang melakukan penelitian di situs batu naga yang terdapat di Gunung Tilu.

Singkat cerita, kami sampai di Taman Baca Naga Banjaran. Nama yang cukup unik dan filosofis. ‘Naga’ yang berasal dari Batu Naga, salah satu situs prasejarah di dusun tersebut dan ‘Banjaran’ merupakan nama dusunnya. Anak-anak di taman baca ini merupakan siswa/i Sekolah Dasar. Rekan kami, Nursidik merupakan salah satu pionir berdirinya Taman Baca ini. Ketika kami sampai, istri dari Pak Ali Akbar sedang mengajar Bahasa Inggris kepada anak-anak. Saya berkesempatan untuk mengetes anak-anak terhadap kosakata yang baru mereka pelajari. Baru setelah itu kami dari Paguyuban Moka memberi materi kepada mereka. Materi yang disampaikan adalah tentang PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) yang dipandu oleh Desyntia. Dia merupakan mahasiswi dari Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya. Pertama perkenalan, kedua pemberian materi PHBS yaitu cara mencuci tangan yang baik dan terakhir adalah menyanyi.

Senang rasanya bisa berbagi bersama anak-anak. Saya merupakan seorang pecinta anak-anak. Terkadang mereka memberi sesuatu yang berharga untuk dapat kita pelajari karena sejatinya naluri anak-anak adalah natural, mereka belum mengerti bagaimana rasanya revisi skripsi, uang bulanan udah abis dan pedihnya diputusin sama pacar (hoo….hhoo….hoo). Terlebih anak-anak di dusun banjaran ini sangat antusias terhadap materi yang kami berikan dan mengikuti pembelajaran dengan baik. Walaupun akses infrastruktur dan akses komunikasi yang terbatas, tidak menghalangi semangat mereka untuk terus belajar menuntut ilmu.

Saya juga merasa ada kebanggaan tersendiri setelah menularkan kepedulian sosial saya bersama anak-anak. Realisasi Moka Mengajar ini masuk dalam wishlist saya di tahun 2017 sehingga pencapaian ataupun keikutsertaan saya dalam program Paguyuban Moka tersebut dapat menjadi nilai plus yang berguna di masa yang akan datang. Harapan saya adalah dapat mengunjungi seluruh taman baca di Kab. Kuningan dan ikut mengajar lagi bareng rekan-rekan moka.

Sebelum saya pulang, saya sempat mengobrol dengan warga setempat, kebetulan saya ngobrol dengan Pak Lurah. Saya heran mengapa daerah ini seperti terisolir sekali dengan segala akses yang sangat terbatas. Ternyata selama 14 tahun (dimulai dari tahun 2000-2014), memang desa ini terisolir dan secara administratif tidak termasuk di Kab. Kuningan, bahkan di peta pun sempat dihilangkan. Baru dari sejak pertengahan tahun 2014 sampai sekarang mendapat perhatian kembali dari pemerintah setempat. Infrastruktur jalan juga sempat mengalami perbaikan namun tidak sepenuhnya diperbaiki karena medan yang sulit untuk dilalui oleh kendaraan proyek. Bisa digambarkan bahwa akses pertama masuk dusun ini material jalan hanya berupa tanah merah, baru sisanya sampai ke permukiman itu batu kerikil, dengan medan jalan yang menanjak tentunya ada tantangan tersendiri untuk mencapai permukiman warga.

Pelajaran yang dapat saya ambil dari peristiwa ini adalah kepedulian bukanlah sesuatu yang sulit untuk diaplikasikan, terlebih kepedulian itu ditularkan dalam jiwa sosial yang didasari nilai kemanusiaan. Insya Allah kita akan menuai kebaikan terhadap kepedulian yang telah kita tularkan. Saya selalu percaya bahwa dengan kita memiliki rasa peduli, disaat itulah kita merasa hidup, menjadi manusia yang sesungguhnya tanpa memandang latar belakang seseorang. Selama mereka membutuhkan bantuan dan perhatian kita, uluran tangan kecil ini untuk membantu pasti akan menjadi saksi yang nyata bagi mereka.

“Kita tidak akan menjadi kaya juga populer dalam membantu sesama, melainkan kita akan menjadi saksi yang nyata bagi mereka ketika dapat mengulurkan tangan kepedulian ini”

-Nursidik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s