Nonton AADC di Vidio, Membaca dan Menulis (lagi…)

Akhirnya bisa menulis kembali di tahun 2020 ini. 2 minggu ke belakang, saya iseng masukin kode voucher aplikasi vidio untuk membuka akses premier. Kode itu saya dapetin dari instagram waktu liat postingan katababa apa bangijaltv yaa lupa lagi 😜. Pokoknya antara 2 akun itu.

Lumayan kan dapet akses premier gratisan buat 2 minggu ke depan. Saya cobain donk dan ternyata berhasil. Soalnya sayang banget dapet kuota entertainment bulanan dari halokick suka nyisa banyak, kadang ga kepake sama sekali. Nah aplikasi vidio ini yang menurut saya lebih seru dibanding Maxstream & Hooq karena kontennya lebih banyak.

Pas vidio munculin rekomendasi, entah kenapa saya pengen nonton AADC 2. Film yg di rilis tahun 2016 (waktu saya kuliah semester 6) ini mengisahkan cerita Cinta & Rangga yang sama sekali belum saya tonton, demikian juga AADC 1 yang rilisan tahun 2002 nya belum saya tonton juga.

“Rangga, apa yang kamu lakukan ke saya itu, Jahat!” itulah sepenggal line film nya yang populer.

Saya nontonnya itu berbarengan dengan deadline ngerjain analisis Laporan Pertanggungjawaban Bupati Kuningan tahun 2019 yang disuruh sama saudara, dia anggota DPRD. Okelah kesampingkan dulu pikir saya, lagian sebelumnya udah clear tinggal merubah redaksinya aja sama poles-poles dikit analisisnya.

2 jam nonton film itu serasa terbawa hanyut dalam suasana romannya, apalagi waktu yang mendukung banget kan malem menjelang tidur suka ngayal-ngayal gak jelas. Entah kenapa saya merasa terbius sama alur ceritanya. Sejujurnya saya mengalami hal serupa, ada permasalahan yang belum tuntas dengan seseorang di masa lalu, hampir genap 10 tahun lamanya. Cuma bedanya mungkin doi udah gak peduli lagi, cuek, di follow di IG malah saya kena blokir alhasil saya bikin akun baru buat stalking doi lagi. Mencoba berdamai di tahun 2013 malah dikatain gugug. Eeeehhh….kok jadi sesi curhatt 🤪

Jadi gini, film AADC 2 itu romantis banget, bumbu-bumbu puisi menambah aroma sepanjang cerita. Saya suka puisi, sejak SD sampe SMA saya tak kunjung menemukan ruang untuk mengekspresikan kesukaan saya. Entah waktu itu saya terlalu menutup diri ataukah memang saya tak pandai bergaul, apapun itu saya tidak ingin menyalahkan keadaan. Hingga bisa dibilang saya suka aja gitu. Paling nulis-nulis gak jelas aja sih kayak gini, nulis serius dilombain gak menang-menang. Hidup memang rumit…

Film ini seolah membangunkan saya dari hibernasi. ‘Kenapa kamu tidak menulis apa yang kamu suka? Menulis puisi contohnya’ tanya hati kecil ini.

Di dalam film juga kan kita bisa ambil pelajaran, gimana konsistensi Rangga menikmati perjalanan hidup dari apa yang dia sukai. Jadi kolumnis, akuntan dan sekarang buka kedai kopi di tanah rantaunya, New York. Begitu juga si Cinta yang membuka galeri seni di Jakarta. Sejak SMA memang mereka sama-sama menyukai karya sastra, menghabiskan banyak waktu membaca buku dan menulis puisi (saya tahu ini selepas menonton AADC 1 nya).

Poin pentingnya adalah oke saya pertama kalinya seumur hidup kagum dengan salah satu film ‘cinta-cintaan’ produksi tanah air. Saya bangga bahwa apa yang saya tonton menghadirkan aura positif yaitu membaca buku dan menulis. 2 hal yang akan selalu berdampingan, menguatkan satu dengan yang lain, tak hanya membaca karya sastra dan menulis puisi aja, membaca dan menulis apapun selama itu positif.

Tadi sore saya beli buku puisi karya Boy Candra pas pulang dari kantor, cukuplah untuk baca-baca ringan guna mendistraksi waktu agar tak dihabiskan hanya untuk melihat story & membaca status orang lain di medsos.

Buku yang tadi sore saya beli, isinya kumpulan puisi-puisi cinta karya Boy Candra

Ke depannya mungkin saya harus lebih banyak lagi membaca buku, agar tak seharian waktu dihabiskan hanya memegang gawai, stalking mantanku yang tadi, perang komentar, ngelike foto targetan arrrggghhh….sangat tidak produktif 😫

Jangan lupa sep, bahan bacaan buat persiapan SKB CPNS itu masih banyak juga yang belum kamu baca 😐

Sekian, terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan yang sangat tidak berfaedah ini (diketik kurang lebih selama 2 jam).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s