PARALELISME FC BARCELONA-LEICESTER CITY DI PEREMPAT FINAL LIGA CHAMPIONS: MENANTI TUAH CAMP NOU JILID DUA & DAYA MAGIS KING POWER UNTUK THE FOXES

Gelaran leg pertama perempat final Liga Champions telah usai. Juventus mampu tampil gemilang di Turin dengan menumbangkan Barcelona dengan skor 3-0, teror bom tak mengganggu konsentrasi AS Monaco untuk melawat ke Signal Iduna Park dan berhasil meraih kemenangan dengan skor 2-3 atas tuan rumah Borussia Dortmund, Leicester dipaksa menelan kekalahan dari Atletico Madrid dengan skor 1-0 di Vicente Calderon, Bayern Munchen secara tak terduga tumbang di Allianz Arena 1-2 dari Real Madrid.

Ada satu hal yang menarik yakni FC Barcelona dan Leicester City sebagai juara bertahan di liga domestik masing-masing, sama-sama tumbang di leg pertama. Sebagai refleksi, keduanya juga tumbang pada leg pertama babak sebelumnya, di perdelapan final, namun mampu tampil superior di leg kedua sehingga mampu sampai pada babak perempat final.

Coretan ini akan mengulas sedikit kans kedua tim sebagai tuan rumah untuk mempertaruhkan harga diri mereka kedua kalinya di hadapan puluhan ribu supporter di leg kedua nanti.

JUVENTUS 3-0 FC BARCELONA

Juventus mengusung misi balas dendam terhadap Barcelona yang menaklukannya di partai final Liga Champions musim 2014/2015. Berkaca pada gelaran liga domestik, Juventus mampu tampil cemerlang dengan duduk di puncak klasemen, surplus 6 poin dari AS Roma yang duduk di posisi runner up. Sementara, FC Barcelona duduk di posisi kedua dengan defisit 3 poin dari Real Madrid yang masih memiliki tabungan 1 pertandingan melawan Celta Vigo. Di pertandingan terakhirnya, alih-alih memangkas poin dengan Real Madrid yang sebelumnya ditahan imbang rival sekotanya, Atletico Madrid, Barca justru tumbang di kandang Malaga dengan skor 2-0.

Seperti kita ketahui bahwa Barcelona tampil penuh determinasi ketika menyambut PSG di Camp Nou. Hasil akhir sungguh berada diluar dugaan, Barcelona mampu mengejar gap 4 gol di leg pertama, membalas dengan skor 6-1 di leg kedua. Agregat menjadi 6-5 dengan keunggulan Barcelona. Ini menjadikan Barcelona mengukir momen sejarah di level Eropa sebagai satu-satunya tim yang mampu mengejar ketertinggalan defisit 4 gol di leg pertama dan mampu melaju ke babak selanjutnya. Meskipun terjadi protes disana-sini yang mengeluhkan kinerja wasit, sampai-sampai ada yang memunculkan petisi agar pertandingannya diulang, namun itu semua takkan merubah hasil akhir pertandingan.

espncdncom
sumber: a.espncdn.com

Kini, Blaugrana kembali dihadapkan pada tantangan terbesar keduanya di musim ini untuk dapat menguji kualitas dan mentalitas pemain serta tuah dari Camp Nou untuk dapat membalikkan keadaan. Kalah 3-0 di leg pertama, berarti setidaknya mereka harus mampu unggul 3-0 juga di leg kedua untuk dapat memperpanjang nafas lewat extra time dan adu penalti atau mereka harus unggul 4-0 untuk dapat melaju langsung ke tahap semifinal. Kali ini lawannya adalah Raja Italia, Sang Pemuncak Klasemen, Juventus.

Juventus menyatakan akan tampil menyerang di leg kedua nanti dan mempertahankan keunggulan mereka. Bicara tentang pertahanan, Juventus adalah jagonya. Buffon mencatatkan 6 cleansheet musim ini di Liga Champions. Rekor ini tak terlepas dari solidnya pertahanan Juve yang diisi jajaran bek handal seperti Dani Alves, Chiellini, Bonucci dan Alex Sandro. Namun bicara tentang sepakbola, segalanya bisa terjadi, nothing to lose sebelum peluit akhir dibunyikan. Meskipun rasanya sekarang semakin sulit untuk dapat mengulang keajaiban,

Barcelona akan disaksikan langsung oleh puluhan ribu supporternya yang menjadi nilai plus tersendiri untuk memompa semangat juang para pemain. Jadi, akankah terulang lagi keajaiban Camp Nou jilid yang kedua? Leg kedua nanti diprediksi akan berjalan sangat alot dan penuh tensi tinggi.

ATLETICO MADRID 1-0 LEICESTER CITY

Pertandingan yang sangat menarik terjadi di Vicente Calderon, markas Atletico Madrid. Los Rojiblancos menyambut kedatangan tim tamu dari Inggris, Leicester City.

The Foxes -julukan Leicester- melaju ke putaran perempat final Liga Champions dengan perjuangan ekstra, membalikkan keadaan di King Power Stadium dengan skor 2-0 setelah tertinggal defisit 1 gol dari Sevilla.

cityamcom
sumber: cityam.com

Mereka menjadi satu-satunya harapan Inggris di perempat final setelah wakil lainnya Arsenal tercampakkan oleh Bayern Munchen dan Manchester City yang disingkirkan oleh AS Monaco. Cerita dongeng terus berlanjut bagi Leicester, dengan menjadikan pengalaman perdana berkompetisi di level Eropa, bisa langsung lolos fase grup, tembus tahap perdelapan final hingga perempat final saat ini adalah suatu hal yang luar biasa. Tim yang mereka kalahkan di perdelapan final bukanlah tim ecek-ecek dengan kualitas rendah. Sevilla merupakan juara bertahan Liga Europa 3x berturut-turut dan manajer mereka saat ini, Jorge Sampaoli adalah suksesor Chile dalam gelaran Copa America 2015 dengan menumbangkan Argentina di tahap final.

Banyak juga pihak yang iseng, mencoba membandingkan Leicester dengan wakil inggris lainnya yaitu Arsenal. Leicester City mampu tembus perempat final dengan satu kali percobaan, sementara Arsenal yang selalu lolos dari fase grup tapi terus tersingkir di tahap perdelapan final Liga Champions.

Craig Shakespeare adalah sosok dibalik kebangkitan Leicester setelah ditinggal manajer mereka, Claudio Ranieri. Di EPL, Leicester sempat berada dalam jurang degradasi setelah tampil buruk di akhir masa kepelatihan Ranieri sebelum klub mengambil langkah pemecatan untuk manajer Italia tersebut. Alhasil, sekarang mereka berhasil menjauh dari jurang degradasi dan bercokol di posisi 11 klasemen sementara.

Di kubu lain, Atletico Madrid sepertinya terlalu superior untuk wakil inggris tersebut. Los Rojiblancos mampu unggul lewat tembakan 12 pass yang di eksekusi Antoine Griezmann. Mereka mendominasi sepanjang pertandingan dengan sama sekali tidak memberi kesempatan menembak satu pun ke gawang Jan Oblak, akhirnya The Foxes dipaksa tumbang 1-0 di Madrid.

Tapi, itu bukan akhir dari segalanya. King Power Stadium dituntut memberi magisnya kembali untuk dapat membalikkan keadaan di leg kedua nanti. Defisit 1 gol menjadi tugas berat Leicester untuk dapat melaju ke babak selanjutnya dengan berkaca pada tidak adanya tembakan ke gawang Atletico di leg 1. Ini menjadi PR Shakespeare untuk dapat memoles para pemain lini depan Leicester -Jamie Vardy, Ahmed Musa, Islam Slimani, Leonardo Ulloa dan Shinji Okazaki- menjadi lebih kreatif dan diharapkan dapat menstabilisasi lini tengah lewat Marc Albrighton sebagai motor serangan.

Lagi-lagi akankah Leicester mampu bangkit mengejar ketertinggalannya? Akan sampai manakah cerita dongeng Leicester City di level Eropa saat ini? Hasil pertandingan leg kedua nanti akan menjadi jawabannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s